
Menjemput Cahaya Langit: Refleksi Isra’ Mi’raj 1447 H
Selamat memperingati peristiwa agung Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW, 27 Rajab 1447 H. Perjalanan semalam yang menembus batas ruang dan waktu ini bukan sekadar kisah sejarah, melainkan bukti nyata kekuasaan Allah SWT yang melampaui logika manusia. Sebuah perjalanan cinta dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa hingga puncaknya di Sidratul Muntaha.
Peristiwa ini menjadi momentum penguatan iman bagi setiap Muslim. Di saat Rasulullah sedang dirundung kesedihan (Amul Huzni), Allah menghibur beliau dengan memperlihatkan tanda-tanda kebesaran-Nya. Ini mengajarkan kita bahwa di balik setiap kesulitan yang kita hadapi, selalu ada keajaiban dan pertolongan Allah yang menanti jika kita tetap bersabar.
Inti dari perjalanan suci ini adalah turunnya perintah shalat lima waktu. Jika Rasulullah harus menjemput perintah ini langsung ke langit ketujuh, maka shalat adalah “Mi’raj”-nya orang beriman. Lewat shalat, ruh kita berkomunikasi langsung dengan Sang Pencipta, melepaskan diri sejenak dari hiruk-pikuk dunia yang fana.
Tema utama kita tahun ini adalah “Jaga Shalat dalam keadaan apapun”. Kalimat ini bukan sekadar slogan, melainkan pengingat bahwa shalat adalah jangkar hidup kita. Dalam kondisi bahagia maupun sulit, dalam keadaan lapang maupun sempit, shalat adalah garis pertahanan terakhir yang menjaga kita agar tetap berada di jalan yang lurus.
Menjaga shalat berarti menjaga disiplin diri dan integritas. Orang yang konsisten mendirikan shalat akan merasakan ketenangan batin yang tidak bisa dibeli dengan materi. Sebagaimana janji Allah, shalat yang dilakukan dengan khusyuk akan menjadi benteng yang mencegah kita dari perbuatan keji dan mungkar.
Di era modern yang serba cepat ini, kita seringkali merasa terlalu sibuk untuk bersujud. Namun, Isra’ Mi’raj mengingatkan bahwa sesibuk apa pun urusan dunia, menghadap Allah adalah prioritas utama. Jangan sampai kita mengejar dunia yang tertinggal, namun meninggalkan Dia yang mengatur segala urusan dunia tersebut.
Bagi keluarga besar SD Djama’atul Ichwan, mari kita jadikan peringatan ini sebagai titik balik untuk memperbaiki kualitas ibadah kita. Mari kita bimbing putra-putri kita agar mencintai shalat sejak dini, menjadikannya kebutuhan, bukan sekadar kewajiban, sehingga mereka tumbuh menjadi generasi yang bertakwa, cerdas, dan berbudaya.
Selain itu, Isra’ Mi’raj juga mempererat ukhuwah Islamiyah kita. Shalat berjamaah di masjid mengajarkan kita tentang kesetaraan dan persatuan. Tidak ada perbedaan kasta di hadapan Allah; semua berdiri sejajar dalam barisan yang rapi, menunjukkan betapa kuatnya umat Islam jika bersatu dalam ketaatan.
Mari kita manfaatkan momen 27 Rajab ini untuk memperbanyak shalawat kepada Baginda Nabi Muhammad SAW. Semoga syafaat beliau senantiasa menyertai kita, dan semoga kita diberikan kekuatan untuk terus istiqomah menjalankan sunnah-sunnahnya hingga akhir hayat nanti.
Terakhir, marilah kita berdoa agar hati kita senantiasa terpaut pada masjid dan dahi kita selalu ringan untuk bersujud. Selamat merayakan Isra’ Mi’raj 1447 H / 2026 M. Semoga cahaya Sidratul Muntaha senantiasa menerangi langkah hidup kita menuju ridha-Nya. Aamiin Ya Rabbal Alamin.